-->
Subscribe For Free Updates!

We'll not spam mate! We promise.

WELCOME TO BLOGNYA MUFTI HANIF Creative Blog Informasi dan Hal Menarik Lainnya Informasi Tentang Teknologi

Ibu, Pendidikan dan Karakter Anak Bangsa

Kemas ZulfakarOleh Kemas Zulfakar M Pd I
Guru MAN Tanjung Kupang
Artikel saya kali ini merupakan kayra dari seorang yang saya banggakan yaitu ayahanda saya sendiri (wkwkwk) :D sekilas informasi dari saya ini semoga bermanfaat. Silahkan membaca !
Bila seseorang melakukan kejahatan pada usia dewasa seperti mencuri makah dinamakan pencuri, jika korupsi disebut koruptor,membunuh adalah pembunuh dan lain sebagainya. yang menjactis semua itu adalah indipidu itu sendiri. Namun bilah yang berbuat kejahatan hukum dilakukan oleh seseorang yang berusia sekolah ada semacam kesepakatan menyatakan itu adalah kenakalan remaja atau juvenile delinquency juvenile yang berarti anak, dan delinquency yang berarti kejahatan. Pertanyaan nya siapa yang bersalah ? keluargakah, lingkungankah, atau pendidikan !
Tulisan ini bukan mencari kambing hitam scapegoat ataupun anak onta lubnah akan tetapi berusaha membangun alternative pundamental dari semua itu. Merujuk pada ajaran Islam Alquran Syurah Al-a’raaf,172 “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab: ” Betul Engkau Tuhan Kami, kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ke-Esa-an Tuhan”.
Pertama pendidikan karakter. Ayat ini menjelaskan Sebuah karakter kecintaan, keta’atan pengapdian kepada yang maha Agung Al-mulk sudah terbentuk ketika manusia dialam azali atau alam rahim bunda tercinta. Peran seorang bunda adalah menjaga kesehatan dari pola makan karna kesehatan bunda secara inflinsif berpengaruh pada bayi didalam rahim. Alam rahim bilah diterjemahkan bahasa Indonesia adalah alam kasih sayang atau awal dari proses pendidikan karakter bagi calon bayi Membangun karakter anak dimulai sejak masih dalam kandungan sebua keniscayaan seperti membaca alquran atau memperdengarkan murotal al-qur’an, sering mengikuti kajian keislaman dan kebaikan lainnya menjelang kelahiran.
Kedua makna dari tangisan pertama saat dilahirkan, suatu pertanda aktivitas dari anggota tubuh bayi itu sehat, karna menangis secara otomatis bayi tersebut akan bergerak. Pendapat lain pernafasan pertama terjadi akibat adanya rangsang mekanik kala dada bayi tertekan selama melewati jalan lahir cries respiratory atau tangisan pernapasan. Sementara ada yang berpendapat adanya perbedaan dunia dalam dan luar rahim, salah satunya adalah perbedaan suhu dalam kandungan (36-36,5C) dan suhu ruangan yang biasanya lebih rendah.
Jika merujuk dari Alquran Syurah Al-a’raaf,172 diatas sebuah pernyataan, janji setia menjalankan perintah dan menjaga kesucian diri merupakan komitmen ikrhar wa’diyah dan hadits nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Jeritan anak ketika dilahirkan adalah tusukan (propokasi) dari syaithan” HR. Al Bukhari.Saat itu bapak berusaha mencoba menenangkan rasa kekhawatiran terhadap janji dan takut propokasi shaithan dengan lantunan kalimat tauhid adzan seakan akan berkata jangan khawatir anakku kami berdua akan menjagamu dan bertanggung jawab atas janji mu serta melindungimu dari propokasi setan.
Ketiga saat awal bayi baru mulai melihat . Yang pertama di lihat adalah apa yang dikerjakan ibuku , sedang sholatkah, berzikir, pengajian atau sedang merumpi dengan tetangga !
Dalam perspektif agama Islam, pendidikan anak merupakan sebuah tugas berat dan sosok yang paling tepat untuk menunaikan tanggung jawab ini adalah ibu. Dalam masalah ini, peran perempuan tampak lebih penting dari laki-laki. Jelas bahwa salah satu prioritas seorang perempuan adalah menjalankan peran sebagai istri dan ibu. Agama Islam memiliki pandangan yang luas dan mendalam terhadap peran ibu bagi seorang perempuan, sebab Islam menilai masa depan karakter bangsa ada di tangan para ibu. Mereka dianggap sebagai unsur utama pertumbuhan karakter manusia di masyarakat. bukankah sekolah pertama bagi anak adalah ibu “ummi madroyatul ulah /Mother is the first school”.
Kekeliruan IBU
Ada kekeliruan yang sering dilakukan oleh ibu yaitu;
Pada saat anak baru mulai belajar berjalan dan jatuh menabrak kursi , sang ibu menenangkan dari tangisan anak dengan memukul kursi . Tanpa disadari karakter yang ditanam kepada anak sebuah teori pembenaran.” anak tak pernah salah”.
Pada saat anak belajar bicara ibu sering mengucapkan kata-kata “awas ada hantu jangan keluar kamar hari sudah malem”. Disadari atau tidak ibu sudah menumbuhkan sugesti tidak baik kepada anak, padahal si ibu sendiri tidak bisa menjelaskan apa itu hantu.
Pada saat anak belajar bermain, rasa ingin tahu mulai tumbuh pada anak sehingga terkesan nakal dan ucapan ibu terkesan mengancam,” kalau kamu nakal nanti ditangkap pak Polisi dll”.
Dari kekeliruan- kekeliruan diatas akan berdampak secara psikologi anak dan menumbuhkan karakter- karakter tidak baik.
Seorang penyair arab berama Alqois dalam syairnya “ mengapa kau tangisi anak onta padahal kau sendiri yang membunuhnya “makna dari itu mengapa kau sesali tabiat anakmu padahal kau sendiri yang menanamkan nya.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, “Harga diri, kehormatan, kelembutan fitrah, dan kegiatan perempuan sebagai kelebihan yang ada pada perspektif Islam dalam masalah perempuan. Allah Swt telah menciptakan perempuan sedemikian rupa sehingga sebagian urusan emosi, pendidikan, dan bahkan manajemen di dalam rumah tangga hanya bisa ditangani dengan kelembutan jiwa perempuan”.
Didalam Alquran Allah ceritakan dua wanita dari nuansa yang berbedah sebagai tamsil dan pembelajaran pada kita semua yaitu kekhufuran istri dari nabi nuh dan nabi lutf yang notabennya suami seorang rosul sehingga menghasilkan generasi keturunan khufur dan allah tenggelamkan istri nabi nuh beserta anaknya istri nabi lutf beserta kelompoknya. “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya ” Maka mereka tiada berdaya suatu apapun terhadap Allah. Kepada mereka dikatakan, “Masuklah kamu ke dalam neraka jahanam bersama orang yang masuk (ke dalamnya)” (at-Tahrim: 10).
Sebaliknya Allah gambarkan pula nuansa berbeda yaitu istri seorang raja kerajaan mesir kuno fira’un yang mengaku tuhan dan Allah tenggelamkan didasar laut namun beliau mempunyai istri yang sholeha sehingga dapat mengantarkan keturunannya yang taat kepada Allah walaupun mereka mati atas kekejaman fira’un . Allah abadikan doa Asiyah istri fira’un dalan Alquran ; “Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim”. Kemudian diperlihatkan untuknya tempat tinggalnya di dalam Surga (At-Tahrim: 11).
Yang dapat kita petik dari dua wanita dari dimensi yang berbeda yaitu istri Nabi Nuh,istri Nabi Lutf keduanya kafir dan menghasilkan generasi kekafirannya, istri Fira’un seorang raja kafir bernama Asiyah menghasilkan generasi taat dan beriman kepada Allah.
Realita digambarkan Alquran diatas menunjukan bahwa wanita sosok lemah dan tak berdaya yang terbayangkan. Dengan lemahnya fisik, Allah tidak membebankan tanggung jawab nafkah di pundak wanita, memberi banyak keringanan dalam ibadah dan perkara lainnya. Mereka adalah sosok yang mudah mengeluh dan tidak tahan dengan beban yang menghimpitnya. Dengan kebengkokannya sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersikap lembut dan banyak mewasiatkan agar bersikap baik kepadanya. Namun dari kelembutan dan ke lemahan itu terdapat kekuatan dahsat yang dapat mengantarkan generasi ta’at beriman atau sebaliknya generasi khufur. Wallahu a’lam bishawab!.
Sumber artikel : Suara Guru, ditulis oleh : Kemas Zulfakar M,pd I

 
.